KOMUNIKASI HIBRID DALAM PRAKTIK BUDAYA TABUT DI BENGKULU

Intishar, Muhammad Rayyan (2026) KOMUNIKASI HIBRID DALAM PRAKTIK BUDAYA TABUT DI BENGKULU. Skripsi (Bachelor) thesis, Universitas Muhammadiyah Bengkulu.

[img] Text (FullText)
Muhammad Rayyan Intishar_2270201085_FullText (2).pdf - Submitted Version
Restricted to Repository staff only

Download (5MB) | Request a copy
[img] Text (Hasil Turnitin)
Muhammad Rayyan Intishar_2270201085_Turnitinn.pdf - Submitted Version
Restricted to Repository staff only

Download (10MB) | Request a copy
[img] Text (BAB 1)
Abstrak + BAB 1.pdf - Submitted Version

Download (481kB)
[img] Text (BAB 2)
BAB 2.pdf - Submitted Version

Download (400kB)
[img] Text (BAB 3)
BAB 3.pdf - Submitted Version
Restricted to Repository staff only

Download (254kB) | Request a copy
[img] Text (BAB 4)
BAB 4.pdf - Submitted Version
Restricted to Repository staff only

Download (1MB) | Request a copy
[img] Text (BAB 5)
BAB 5.pdf - Submitted Version

Download (213kB)
[img] Text (Referensi + Lampiran)
Daftar pustaka + Lampiran.pdf - Submitted Version

Download (1MB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui secara komprehensif komunikasi hibrid dalam praktik Budaya Tabut di Bengkulu, dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui pendekatan etnografi komunikasi ganda (dual ethnography) dan kerangka Cultural Hybrid Communication Framework (CHCF). Hasil penelitian dianalisis dengan merujuk pada teori komunikasi budaya James W. Carey (2021), yang membedakan komunikasi ke dalam dua paradigma, yaitu transmission view dan ritual view. Temuan penelitian menunjukkan bahwa komunikasi dalam praktik Budaya Tabut di Bengkulu lebih dominan bersifat ritual view dibandingkan sekadar transmission view. Hal ini terlihat dari bagaimana setiap tahapan prosesi Tabut seperti Ambik Tanah, Duduk Penja, Menjara, Arak Penja, Arak Seroban, hingga Tabut Tebuang bukan hanya berfungsi menyampaikan informasi, melainkan menjadi ruang partisipasi komunal (communal participation) dan simbolisme ritual (ritual symbolism) yang memproduksi, memelihara, dan mereproduksi makna sakral secara bersama-sama antara tokoh adat, keluarga Tabut, pelaku budaya, dan masyarakat. Melalui komunikasi tersebut, nilai sejarah, simbol, dan makna spiritual dalam setiap prosesi dapat dipahami dan diwariskan lintas generasi, sehingga identitas budaya tetap terjaga sebagai proses komunikasi budaya yang berkelanjutan, sebagaimana dijelaskan Carey bahwa komunikasi bukan hanya transmisi pesan, melainkan ritual yang mempertemukan, mempertahankan, dan memproduksi realitas sosial. Di sisi lain, penelitian ini juga menemukan adanya dimensi transmission view yang bekerja melengkapi ritual view tersebut, yaitu ketika komunikasi hibrid melalui media digital (media sosial, video digital, dan platform seperti YouTube) berperan memperluas penyebaran informasi dan memperkenalkan Budaya Tabut kepada masyarakat luas, khususnya generasi muda. Meski demikian, makna budaya dan nilai sakral tetap dipertahankan melalui komunikasi tradisional yang bersifat ritual, sehingga media digital berfungsi sebagai pelengkap (transmission view), bukan pengganti, dari komunikasi ritual yang menjadi inti pelestarian Budaya Tabut di Bengkulu.

Item Type: Thesis (Skripsi (Bachelor))
Additional Information: Pebimbing: Dr. Hafri Yuliani, M.I.Kom
Uncontrolled Keywords: Kata kunci: Komunikasi Hibrid, Produksi Makna, Media Digital, Praktik Budaya Tabut Bengkulu
Subjects: Universitas Muhammadiyah Bengkulu > 08-Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik > 70201-(S1) Ilmu Komunikasi
08-Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik > 70201-(S1) Ilmu Komunikasi
Divisions: 08-Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik > 70201-(S1) Ilmu Komunikasi
Subjek Terkait > 08-Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik > 70201-(S1) Ilmu Komunikasi
Depositing User: Mrs Hesti Ayu
Date Deposited: 31 Aug 2026 03:07
Last Modified: 31 Aug 2026 03:07
URI: http://repository.umb.ac.id/id/eprint/3598

Actions (login required)

View Item View Item